Dehidrogenasi Butena

Posted: May 7, 2009 in Uncategorized

Dalam industri pertambangan minyak, proses penyulingan atau pemisahan sangat banyak dilakukan. Bagaimana pemisahan minyak mentah menjadi fraksi – fraksi bensin, solar, minyak tanah, elpiji dan lain lain, memerlukan tindakan proses dari aplikasi percobaan ini. Selain dalam industri tersebut juga terdapat dalam industri air minum, industri minyak wangi dan industri yang memproduksi zat warna.
Contoh aplikasi dalam percobaan ini adalah dehidrogenasi butena.
Dehidrasi katalitik butena bertemperatur tinggi digunakan untuk memproduksi butadiena yang dibuat saat ini. Butena diperoleh dalam bentuk cair dari suatu fraksi C4 dengan operasi absorbsi dan destilasi dari sumber minyak bumi. Untuk operasi yang ekonomis, butena umpan harus pekat  70 % dan lebih disukai bila 80 –95 %. Ini dikarenakan hanya sebagian butena yang dikonversikan di recycle. Karena dehidrogenasi butena tidak mengkonversi isobutilena secara berarti, mereka harus dipindahkan dari umpan segar untuk mencegah purging berlebih.
Karena volatilitas hidrokarbon C4 sangat berdekatan satu sama lain, destilasi langsung tidaklah ekonomis untuk pemurnian umpan. Prosedur yang lazim, seperti flowsheet adalah dengan memindahkan isobutilena terlebih dulu dengan ekstraksi H2SO4 60 –65 % berat dalam dua tahap pencampur – pengendap berlawanan arah.
(CH3)2C = CH2 + H2SO4  (CH3)2COSO3H
Dalam praktek sebenarnya, pelarut dimasukkan ke dalam kolom destilasi beberapa plat di bawah bagian atas; umpan hidrokarbon masuk dekat pertengahan. Beberapa plat di atas memungkinkan pemisahan hidrokarbon overhead dan solvent. Kecuali dengan furfural. pemisahan ini tidak lengkap : dengan aseton membentuk azeotrop, dengan asetonitril karena volatilitas yang dekat. Air cucian digunakan untuk membersihkan produk butena dan butilena. Pemurnian butilena sebagai konsentrat 90 –95 % biasanya mencapai 80 – 90 %. Kolom ekstraksi butilena biasanya 2 x 50 kolom plat teroperasi secara berurutan. Aseton dan furfural adalah pelarut selektif utama untuk pemisahan butena/butana, tapi asetonitril lebih baik digunakan bila dibanding dengan aseton karena volatilitasnya yang lebih besar.
Asam lemah diregenerasi baik dengan stripping isobutilena terlarut pada suhu tinggi dan tekanan rendah yang akan membalik persamaan, diikuti pendinginan pengendapan dimer tak larut dalam asam.
Destilasi ekstraktif memisahkan butena dari butana dengan modifikasi efek pelarut dalam volatilitas relatif komponen. Singkat kata pelarut polar cenderung membentuk suatu larutan yang lebih ideal dengan konstituen olefinik campuran, sementara komponen parafinik memperoleh suatu koefisien aktivitas yang lebih tinggi. Akibatnya dengan adanya pelarut dalam jumlah besar (konsentrasi pelarut dalam fasa cair dalam zona fraksinasi sebaiknya 80 % mol dengan aseton, 85 – 95% mole dengan asetonitril dan 90 % mol dengan furfural) butana akan naik ke atas dan butena akan tetap tinggal di dasar solvent. Solvent dipisahkan dari butena, biasanya dengan berikut destilasi dan direcycle ke kolom destilasi ekstraktif.
Dalam operasi dehidrogenasi, butena dimurnikan dengan kombinasi proses yang sesuai, bersama dengan arus di luar, dibawa terkontak dengan katalis padat yang dapat memberikan efek dehidrogenasi butadiena.
CH2 = CHCH2CH3 ——> CH2 = CHCH = CH2 + H2
1-butena butadiena
CH2CH = CHCH3 ——-> CH2 = CHCH = CH2 + H2
2-butena butadiena

Comments
  1. shi says:

    tolong kirimin k emailku tentang pembuatan acetaldehide dengan proses dehirogenasi

  2. 07-047 says:

    gan.. ada flowchart? mw cri apliksi rfc,cri butena..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s